Bursa Taruhan Sabda Sepak Bola

Bursa Taruhan Sabda Sepak BolaBursa Taruhan - Event apa yang paling banyak ditonton oleh manusia di muka bumi ini ?. Bukan Olimpiade, bukan Golden Globe Award, bukan Pemilu di negara besar, bukan juga ajang Miss Universe. Piala Dunia (World Cup) lah jawabannya (survei Reuters.com). Sepak bola seakan bersabda melalui eksistensinya di muka bumi ini.

Banyak mata tertuju ketika sepak bola disajikan di layar kaca, di lapangan dekat rumah, maupun di dalam artikel surat kabar dan situs maya. Mulai dari sosialita, seperti  presiden, pejabat, artis, sampai ke masyarakat akar rumput, layaknya, tukang becak, narapidana, ibu rumah tangga, bocah kecil, maupun orang jompo, semuanya menikmati sepak bola. Menonton sepak bola dapat melupakan sejenak masalah sesungguhnya dalam hidup. Sugesti sepak bola membuat kita memasuki alam bawah sadar kita yang menarik untuk ditelusuri.

Sepak bola identik dengan kepahlawanan. Adalah hal biasa jika seorang pemain sepak bola yang telah mengharumkan negaranya dinobatkan sebagai pahlawan. Argentina selalu menobatkan Armando Maradona dalam legenda sepak bolanya. Hal ini wajar mengingat kelihaian Mardona yang telah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 (Kompas, 21/5/2010). Meskipun Maradona dalam kariernya pernah tersandung kasus narkoba pada tahun 1994, hati masyarakat Argentina tidak bergeming dan tetap menjadikan Maradona sebagai pahlawan (vivanews.com). Hal serupa terjadi pula pada Zinadine Zidane. Meskipun di akhir kariernya (2006), Zidane melakukan tindakan memalukan dengan menyeruduk dada pemain Italia, Marco Materazzi, namun rakyat Perancis tetap menaruh tahta kepahlawanan kepada Zidane yang telah membawa Perancis menjuarai Piala Dunia pertamanya tahun 1998. Banyak lagi orang-orang yang mahsyur berkat sepak bola – Bursa Taruhan.

Sepak bola juga merupakan cerminan dalam intelektualitas seseorang. Memang belum ada teori yang mengaitkan bahwa sepak bola dapat meningkatkan intelektualitas seseorang. Tapi sekelumit fakta menyajikan bahwa ada sederet negarawan pandai di dunia yang gemar bermain dan menyukai sepak bola. Pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini misalnya, dia sangat mencintai klub sepak bola S.S. Lazio. Dia juga menuntut agar pemain Italia menang dalam Piala Dunia, dia mengancam hukuman mati jika tim Italia gagal. Di Indonesia, tokoh seperti Moh. Hatta, Sutan Syahrir, serta Moh. Bondan rajin bermain sepak bola ketika sedang diasingkan di Boven Digul (Bondan, 2008: 200). Tokoh-tokoh tersebut seakan menyandingkan kekuatan intelektualitas dalam permainan sepak bola. Sepak bola—dalam permainannya—membentuk semacam intelektualitas yang niscaya membentuk manusia untuk mengorganisasi dirinya. Di dalamnya terdapat persaingan, strategi, dan kecerdikan. Ada pula pelajaran bagi yang kalah, yang tertinggal, tersungkur, bahkan dicurangi atau hancur seluruhnya.

Selain itu, sepak bola dapat meningkatkan status sosial. Brazil contohnya, sebagai negara yang tergolong negara berkembang dan memliki pendapatan per-kapita yang masih rendah, ternyata Brazil dapat disegani oleh mata internasional. Siapa tidak gentar mendengar nama juara lima kali Piala Dunia ini. Bahkan pemain-pemain “buangan” asal Brazil yang tidak diterima di negaranya, dapat diterima dengan mumpuni di negara-negara lain yang haus akan pemain-pemain hebat. Tidak salah menyebut Brazil sebagai negeri sepak bola, Ricky Joe pernah beranekdot, “meskipun Brazil mengambil pemain yang asal comot dia tetap menjadi juaranya sepak bola – Bursa Taruhan.

Nilai budaya dan rasa nasionalisme dapat pula dipromosikan lewat ajang sepak bola. Negara yang diberi kesempatan mencicipi menjadi tuan rumah Piala Dunia, dapat aji mumpung mempromosikan budayanya. Tak ayal lagi keuntungan yang dikeruk dari tuan rumah ajang Piala Dunia maupun ajang sepak bola lainnya, sangatlah menjanjikan. Sesaat itu pula hadir jiwa nasionalisme yang membakar para rakyat pendukung masing-masing negaranya. Amarah dan emosi dituangkan dalam bentuk dukungan dan kreatifitas untuk mendukung tim kesayangan. Bukan disajikan dalam kerusuhan dan perkelahian suporter seperti yang kita sering saksikan pada liga di negeri kita.

Jelas sudah sepak bola memiliki arti dalam hidup. Sepak bola dapat membantu kita mendefinisikan sikap kita, dalam berstrategi, berpikir tepat sasaran dan kecergasan, dapat juga merefleksikan nilai-nilai kebudayaan, nasionalisme  dan kepahlawanan, serta dapat menunjukkan prestise dan posisi sosial kita. Sepak bola membantu kita untuk mengungkapkan bagaimana kita harus selalu lebih baik dan unggul untuk keluar sebagai pemenang. Sepak bola bukan hanya produk yang dibuat manusia, tapi dalam sejarahnya, sepak bola seakan-akan bersabda dan menuntun masyarakat yang ada di muka bumi untuk menggelutinya. Sepak bola seakan mewarnai perubahan di dalam kehidupan kita. Kalau, sepak bola telah menjadi agen perubahan bagi manusia, mengapa Indonesia tidak berubah untuk sepak bola dalam negerinya ? – Bursa Taruhan.

Ditulis oleh Bursa Taruhan Indonesia Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda. Apabila anda hendak mengutip, baik itu seluruh atau sebagian dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://indobursataruhan.com/bursa-taruhan-sabda-sepak-bola/ Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.